Jumat, 30 Agustus 2019
Pertanyaan
Apakah saya baik-baik saja?
Setelah gagal mendekap saya hampir satu tahun lamanya? Setelah mimpi tidak menjadi nyata dan kenyataan selalu melelahkan hati dan pikiran saya?
Apakah saya baik-baik saja?
Sebab, akhir-akhir ini saya menggilai segala hal yang berwarna hitam dan saya semakin mencintai sepi. Apakah ini disebut dengan menarik diri?
Apakah saya baik-baik saja?
Walaupun saya punya suara tawa paling keras, mengoleksi meme, juga menyebutkan jokes receh nan gurih.
Apakah saya baik-baik saja?
Asalkan saya selalu bisa berbagi ketenangan, kata motivasi, juga bahu kokoh sebagai tempat bersandarmu.
Apakah saya baik-baik saja?
Meskipun saya memiliki puluhan ide untuk menuliskan segala keresahan dan ketakutan, sehingga ada alasan untuk menjadi tenang.
'Apakah kamu baik-baik saja?' bisikku pada diri sendiri sambil memandang gambar anjing hitam di galeri ponselku.
Sabtu, 24 Agustus 2019
Pengakuan Dosa
Kapan hari, saya tidak sengaja membaca cuitan mutual saya selepas berkumpul bersama temen masa kecilnya. Mereka terlihat bahagia dan akrab. Sejujurnya saya iri. Bukan iri karena saya tidak punya teman, saya iri karena dia berhasil 'selalu intim' dengan temannya. Saya iri dengan kehebatannya.
Saya selalu mengeluh kesepian, tapi saya tidak pernah mencoba keluar dari keterasingan.
Saya selalu begini. Mengulurkan tangan, bersendau gurau, lalu menghilang ketika saya bertapa. Selalu demikian.
Saya selalu begini. Membuat akun sosmed, aktif, lalu hapus akun ketika saya bosan. Selalu demikian.
Saya selalu begini. Merasa sendiri, merindukan keintiman, lalu mengamati kehidupan mereka melalui sosmed. Tersenyum simpul ketika melihat mereka (sekarang) sudah menemukan bahagia; menjadi istri atau suami, menjadi om atau tante, menjadi ibu atau bapak, memiliki hobi yang menyenangkan, memiliki seseorang yang bisa dipanggil kekasih, maupun memiliki idola baru. Saya selalu demikian.
Saya selalu begini. Ketika rindu mereka terlalu gengsi memulai obrolan di personal chat. Ketika penasaran akan kabarnya, saya terlalu gengsi untuk menelponnya. Hanya menyimpan nomor mereka. Saya selalu demikian.
Saya selalu demikian. Menyampaikan rindu dengan menuliskan segala tingkah lakunya melalui tokoh fiksi yang saya ciptakan. Tulisan yang sampai saat ini masih tersimpan rapi di salah satu folder laptop saya. Tanpa ada niatan saya publikasikan. Karena saya tahu, mereka terlalu berharga untuk sekedar menjadi tokoh fiksi.
Saya selalu dan selalu demikian. Memilih menjadi tidak terlihat, namun nyatanya menjadikan mereka alasan saya terus menulis. Ya meskipun, tulisan juga rindu saya tidak pernah menjadi nyata.
Demikian saya, (mungkin) dilupakan. Sudah seharusnya begitu. Karena saya tidak pernah mencoba untuk kembali ketika memutuskan pergi tanpa pamit.
Rabu, 02 Januari 2019
Akan Tiba Saatnya Nanti
![]() |
Hujan bukan lagi
berupa musim,
ia adalah simbol
dahaga.
Kepada pohon
kaku; merindu akan kicau gagak
paraunya
membelah ilusi dan konsekuensi.
Kepada bunga
layu; menahan jumpa akan lebah betina
parasnya membungkam
resah juga tanya.
Bulan bukan lagi
berupa gerhana,
ia adalah simbol
pengorbanan.
Kepada malam;
yang membiarkan gulita menyelimutinya
mengaburkan
cahaya bintang dengan dusta.
Kepada matahari;
yang mengaku lelah berkobar
meski ia sempat
mengaku terintimidasi akan ruang dan waktu.
Aku,
bukan lagi
berupa manusia, tapi penyesalanmu.
Yang kau
endapkan dalam secangkir kopi, agar pahitku tidak bernyawa.
Yang kau bakar
bersama sampah sisa dosa bersama.
Laporan Pertanggung Jawaban
Sampang dan kita,
adalah musim yang tak
terbaca.
Hujan meluruhkan jumpa,
membanjirkan kata dan bahasa,
tanpa sempat diminta maupun
dibaca.
Menumbangkan doa kita
diantara mega dan sukma.
Menahan kita, diantara
rahasia dan dosa.
Sampang dan kita,
menerka segala bahaya dalam
siksa raga.
Membiarkan malam mengiris
waktu,
sedangkan rindu berlarian
mencari pisau, dan berebut menyebut dirinya yang paling tajam.
Mungkin rindu terlalu bosan
menahan diri, ia butuh bunuh diri.
Agar takdir menyadari
ketidakadaannya;
barangkali sudi membacakan
ayat-ayat suci di setiap jengkal kepulangannya.
Sampang dan kita adalah
selamat tinggal.
Di pagi buta, kita mengemas
memori itu dan menatanya di dalam koper.
Nanti ketika kita sudah di
Surabaya, memori itu kita pilah;
mana yang harus kita buang,
mana yang harus kita simpan dalam lemari.
Sampang dan kita adalah
tanda titik.
—Untuk Sampang atas 25 hari yang berarti—
Selasa, 01 Januari 2019
Him
Seorang pria berjalan melewatiku begitu saja. Dia sangat acuh dengan sekitar, hingga tidak sadar tiap kali ia berjalan puluhan lampu sorot meneranginya. Ia tidak merasa meskipun bisik-bisik wanita mengiringi langkahnya. Ia tidak perlu mendongak ataupun tersenyum. Cukup berjalan; dunia berada di genggamannya.
Seorang pria duduk membentuk sudut di sampingku. Dia melirikku sekilas lalu tersenyum tipis. Tanpa izin ia langsung mengelus kepalaku dengan lembut. Aku terkejut dan mendongakkan kepala. Aku menggerakan kepala ke arahnya dan mata kami bertemu. Aku memberanikan diri menatap matanya lebih dari 5 detik. Entah bagaimana, ia sudah tersenyum lebar. Mengangkat dan meletakanku pada pangkuannya, kemudian menciumku. Dia selalu begini ketika kita bertemu di belakang kampus.
Kita hanya sekedar nyaman, bukan dalam suatu hubungan. Kita hanya saling memberi hiburan, bukan berbagi perasaan. Karena dia adalah manusia dan aku hanya seekor kucing yang telah dibuang majikanku.
![]() |
| Untuknya yang selalu memiliki dunia sendiri saat bersama kucing :) |
Kamis, 24 Agustus 2017
Darah Lebih Kental daripada Air Susu
![]() |
Hubungan batin antara seorang ibu dan anak adalah keharusan, lalu bagaimana hubungan batin antara seorang nenek dengan cucunya? Sebuah kompleksitas. Tidak ada yang istimewa antara hubunganku dengan mbah, beliau adalah nenek. Melindungi saya saat dimarahi, menjaga saya saat orang tua saya bekerja, dan memberiku ruang untuk berimajinasi. Beliau melakukannya selama 20 tahun, tanpa henti.
Awalnya saya biasa saja, tidak merasa ada benang dalam hubungan ini. Namun, 367 hari berlalu tanpa kehadiran mbah. Dan saya mulai merasa ada ruang kosong dalam tubuh saya. Ada mata yang menatap saya dalam diam. Ada suara yang membisiki dalam hening. Dan ada telinga yang mendengarkan dalam gelap. Ada kehidupan dalam kekosongan ini. Saya yakin, mbah hidupp dalam kekosongan itu.
Sewaktu kecil, saya selalu senang kalo mbah ke Caruban. Ingat, mbah selalu datang dengan tangan penuh dari Surabaya. Entah itu boneka, payung, atau mungkin mainan. Mbah di Caruban adalah definisi dari kebahagiaan bagi saya dan kedua mas saya. Mbah selalu membiarkan saya kami tenda-tendaan dengan selimut dan kursi, bermain rumah-rumahan dengan kardus kulkas, sepedahan di teras rumah, menjadikan tembok rumah sebagai buku gambar raksasa kami, bahkan membiarkan kami berenang di sungai depan rumah. Ah... Saya bersyukur masa kecil saya begitu menakjubkan saat itu.
Mbah, saya selalu ingat lontong balap, cah kangkung dan dadar jagung buatan mbah. Sehebat apapun ibu memasak mereka, buatan mbah selalu terbaik. Saya juga rindu masakah eksperimen mbah. Wortel bentuk bunga mbah, dan bunga kol yang mbah bentuk seperti petir.
Mbah, saya masih ingat ketika mbah pulang haji dan memberi saya sajadah ungu sambil berkata, "Mbak, ini sajadahnya buat mbak. Ini sajadah selalu mbah pakai selama di Mekkah. Jgn lupa sholat. Nurut sama Ibumu ya? Jgn gerundul kalo Ibumu ngomel."
Mbah, saya ingat dulu saya sempat gerundul waktu jaga mbah di RS. Maaf ya mbah, soalnya pas itu barengan sama UAS :(
Mbah, tabloid Nova favorit mbah masih terbit, masih suka bahas gosip-gosip artis Indonesia. Masih ada halaman resep yang suka mbah komentari karena list bumbunya masih kurang lengkap. Masih ada halaman kisah-kisah pilu di halaman terahkirnya. Oh iya, serial India favorit mbah juga masih tayang. Sekarang, malah Ibu yang suka nonton. Sampai remotenya dikempit gak boleh ganti channel wkwkwk padahal dulu ibu adalah penggemar drama korea garis keras :))))
Mbah,
saya masih ingat subuh saat itu ada subuh paling tidak masuk akal dalam
hidupku. Dan saya selalu takut memegang ponsel ketika adzan subuh, saya takut ada kabar buruk datang. Tapi, mbah gak pamit ke saya :") Saya ingat betul, saat itu saya tidur di kos
teman yang mana malamnya saya masih sempat ngakak seru nonton Dangdut
Academy. Mbah pergi gitu aja, disaat semua berekspektasi mbah pasti
sembuh. Mbah memilih menerima ajakan Tuhan untuk melintasi dimensi ruang tanpa pernah pulang. Mbah, saya belum sempat wisuda dan menikah :)
Mbah, saya sadar sekarang. Selama ini, kita sedekat itu. Cinta itu hadir seirama langkah kita menata masa depan. Mbah, saya akan lebih rajin menengokmu. Saya tahu, mbah masih suka memperhatikan saya. Dari tempat yang masih sulit aku temukan.
Minggu, 11 Juni 2017
Perubahan
Hujan di Surabaya adalah sesak yang mengendapkan rasa.
Ia begitu angkuh.
Ia tidak peduli aku yang melepuh.
Hujan di Surabaya selalu sama,
ia selalu menghambatku.
Memaksaku berteduh pada emper toko cina yg menjual kenyataan.
Kadang, jika aku punya sedikit harga diri, aku berteduh di salah satu teras toko serba ada yang menjual perabotan hidup.
Namun sekarang, Surabaya bersalju.
Ia begitu angkuh.
Ia tidak peduli aku yang melepuh.
Hujan di Surabaya selalu sama,
ia selalu menghambatku.
Memaksaku berteduh pada emper toko cina yg menjual kenyataan.
Kadang, jika aku punya sedikit harga diri, aku berteduh di salah satu teras toko serba ada yang menjual perabotan hidup.
Namun sekarang, Surabaya bersalju.
Langganan:
Postingan (Atom)




